The Power Of Tegencet

The power of Tegencet

Karya: Achyar Ulul Amri

 

             Gubrakkkkk,!semua tumpukan buku jatuh berantakan dari lemari kelantai yang putih, matahari baru saja menampakan warna jingga kebanggannya, tapi aktifitas di asrama ini telah dimulai sebelum fajar menyingsing.

 Aku meneruskan PR ICT yang tinggal sedikit lagi , sebagian teman sekamarku telah mandi dan bersiap dengan pakaian yang akan dipakai untuk berangkat sekolah, tapat pukul 6.00 aku menyelesaikan PR, dan segera pergi ke kamar mandi yang letaknya bersampingan dengan kamarku, kamar mandi itu memiliki 4 tempat mandi terbuka yang menggunakan tirai disebelah kiri dan 3 tempat mandi berpintu disebelah kanan,semua tempat mandi telah penuh namun ternyata masih ada satu yang tersisa untukku, letaknya dipojok kiri ditempat yang bertirai, aku putuskan untuk mandi secepat mungkin untuk menjer effesiensi waktu.

Pakaian telah kukenakan. Seperti biasanya Sebelum pergi kesekolah aku dan teman sekamar lainyanya membersihkan kamar terlebih dahulu, 8 kriteria kamar yang bersihpun telah ditetapkan sekolah, salah-salah jika kamar kita mendapat nilai yang buruk, sudah dipastikan hari minggu hanya bisa dihabiskan di asrama bersama beberapa teman yang senasib  tidak bisa keluar asrama untuk jalan-jalan.

Ini adalah minggu terakhir untuk belajar di kelas 10 sebab minggu depan ulangan IGCSE dan KTSP telang menunggu, beberapa guru memberi tugas kepada seluruh anak, kebanyakan tugas itu di selesaikan secara berkelompok, sebenarnya cukup berat bagi kami untuk mengerjakannya namun demi menambah pengetahuan, tugas setia harus dikerjakan.

Tak kurang dari 8 proyek dari guru telah terdaptar dalam Agenda ku, minggu ini adalah minggu yang berat dimana  harus menyelesaikan project  dan fokus belajar untuk menghadapi ujian selanjutnya.

Saat pertama bekerjasama dengan anggota kelompok Art yang lain, tidak ada masalah yang terjadi, namun setelah beberapa lama aku tahu bahwa salah satu anggota ku , lebih suka untuk mengerjakan hal lain di banding dengan proyek kami. “Bagaimana ini! Kita harus menyelesaikan tugas Art sebelum hari minggu pukul 00.00” teriakku kepada Ikbal yang merupakan anggota ku. “santai sajalah kawan, masih ada 34 jam lagi sebelum tugas itu dikumpul”, kata ikbal. Aku sangat kesal mendengarnya dan pergi dari kamarnya yang bau, pengap seperti hampa udara itu.

Dengan hati yang kesal aku terus berpikir, bagaimana mengahadapi masalah ini. Akhirnya aku mengirim sms kepada anggota art ku yang lain, rima namanya,” rima ayo kita kerjakan tugas art, besok harus di kumpul sebelum pukul 00.00”, tak lama berselang hp ku berbunyi, pertanda sms balasan telah dikiramkan “okey”, karena aku masih kurang yakin teman ku ini akan datang aku kirimkan sms sekali lagi “di kelas X2 yah, jangan telat, sesudah sholat ajak ikbal juga untuk kerja kelompok”.

Sesudah Sholat Ashar, Aku berangkat ke kelas dengan membawa peralatan yang di butuhkan, karton padi telah digenggam oleh tangan kanan, tas sandang hitam yang berisi cat dan peralatan lainnya telah dibawa, terlihat beberapa kelompok telah mulai mengerjakan, tapi aku tak melihat satupun  tidak anggota kelompok ku yang datang, sangat kesal aku dibuatnya, akhirnya aku pergi kebalkon untuk menghirup udara segar sambil menenangkan pikiran, 30 menit telah berlalu namun tidak ada anggota ku yang datang , akhirnya aku memutuskan untuk pulang, ketika aku akan menuruni tangga seseorang memanggilku,” Amri, kamu dari mana saja aku lama telah menuggu disini” suarnya ku kenali, tak salah lagi, itu ikbal yang memanggilku, “Aku juga sudah lama menunggu di balkon” jawab ku spontan. “kata Rima kita akan kerja kelompok di kelas X2 jadi aku menunggu disana sejak tadi”. Wajah ku memerah, sangat malu rasanya menyalahkan orang lain padahal aku juga salah, menuggu di balkon padahal membuat janji di kelas x2, akhirnya aku meminta maaf kepada ikbal. Aku bertanya kepada ikbal apakah rima sudah menunggu atau tida, jawaban dari pertanyaan ku tadi adalah “ia belum datang” kata ikbal.

                    Aku memutuskan memulai kerja kelompok tanpa menuggu rima, si Ikbal meneruskan memotong kertas untuk membuat model untuk proyek kami sedangkan aku, melakukan beberapa eksperiment warna, dengan cat poster yang telah aku bawa, setengah jam berlalu, terdengar langkah seseorang datang mendekat, suara pintu terbuka dan terlihat seorang gadis dengan tinggi sekitar150 cm, dan kacamata yang dikenakannya memberikan gambaran langsung bagi kami untuk tahu bawa itu adalah Irma. “Maaf aku datang terlambat, tadi aku ketiduran” kata Irma, dengan hati cukup berat kami akhirnya memaafkannya.

               Kami teruskan pekerjaan sampai akhirnya Azan magrib terdengar. Kami memutuskan untuk sholat di kelas berdua dengan ikbal, sedangkan Rima pulang keasrama untuk sholat. Setelah sholat kami memutuskan membagi pekerjaanm, aku bertugas membuat papan dasar sedang Rima dan ikbal bertanggung jawab membuat seratus model menjelang Isa’ aku telah mewarnai seratus kotak yang akan di temple di papan dasar, namun ternyatabeberapa kotak salah ukuran sehingga perlu di perbaiki dan perlu waktu mencari perpaduan warnanya lagi.

               Pukul 20.00 rima dan ikbal memutuskan menonton drama yang diadakan di Aula sekolah, sedangkan aku mementingkan proyek dan meneruskan perjuangan membuat papan dasar. Pukul 22.00 ku selesaikan papan dasarnya, Irma datang dari Aula untuk membantuku mengerjakan proyek sedangkan si Ikbal telah menghilang tak kembali setelah menonton drama tadi. Pukul 00.00 semua kelompok yang masih dikelas disuruh pulang ke asrama kaarena telah larut malam, lagi pula Irma ada tes pertukaran pelajar besok pagi pukul 6 pagi.

               Akhirnya kami pulang ke asrama, walaupun tugas belum selesai, si Rima menyanggupi untuk mewarnai sebagian model dan besok akan memberikannya padaku. Ketika membuka pintu kamar semua penghuninya telah tertidur, cuma aku yang masih terjaga untuk merapikan proyek ku dulu sebelum tertidur di kasur juga akhirnya.

               Keesokan paginya, pukul 7.00 ku datangi kamar si ikbal yang letaknya di lantai dua asrama, ia masih tertidur namun aku coba membangunkannya, akhirnya dengan wajah seperti zombie ia setengah sadar mendengar perkataanku, “ Bal , nanti kita kerjakan projeyek setelah makan pagi yah”, dengan suara setengah sadar ia menjawab “ya”. setelah makan pagi, datang teman ku sunandar namanya, ia menyampaikan titipan model yang telah dikerjakan rima sebelum ia pergi untuk tets, aku bersiap dan pergi ke balkon untuk mengerjakan tugas seni lagi, si ikbal dengan kebiasaan lamya, datang terlambat lagi, kami melanjutkan tugas dengan mengecat model dan melipatnya, namun aku baru sadar bahwa ada kesalahan dalam proyek kami, ukuaran model yang dibuat tidak sesuai dengan rencana. Aku meminta ikbla untuk membuat 20 model baru namun ia dengan ketus menjawab “aku tidak mau, kita tidak punya waktu lagi , besok ada ulangan matematika dan aku belum belajar karena tugas seni ini”, dengan sdikit emosi aku berkata “ tugas seni ini juga ulangan kita, apakah kamu tidak tahu itu!”, akihirnya aku sendiri yang membuat 20 model baru, namun rahmat dari tuhan yang kuasa menyadarkan si ikbal sehingga hatinya terbuka untuk membantu ku, akhirnya kami tuntaskan tugas seni pada pukul 1 siang, dengan hati yang sangat lapang karena satu tugas telah teratasi dan senang melihat hasil seni yang telah terbuat. Setelah melalui perdebatan yang sengit dan dilanda keputus asaan mengingat belum belajar untuk ulangan besok akhirnya melahirkan sebuah karya seni yang terbagus yang ernah kami buat. Aku berterima kasih kepada rima dan ikbal karena telah mau bekerja sama dengan ku di semester ini semoga saja hasil seni kami itu mendapatkan nilai seperti yang di harapkan.

**************

2 responses to “The Power Of Tegencet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s